Selasa, 26 Desember 2017

Tak Mendengar

Mudah berteriak, menunjuk memerintah
Menusuk hati, mematikan nurani
Menganggap paling benar, seakan seorang Raja
Menusuk hati, mematikan nurani

"aku tak mendengarnya"

Menyudutkan, memperbudak
Tak ubahnya menginjak dengan bangga
Menyudutkan, memperbudak
Hanya aku tak bisa melawan

Aku tak mendengarnya
Pura-pura tak mendengarkan
Cukup lapangkan dada

Selasa, 19 September 2017

Coretan Refleksi: Kemasan

Teramat sering "apa yang dilihat tidaklah sama dengan keadaan sesungguhnya". Seperti kemasan yang nampak megah, namun didalamnya hanyalah sesuatu yang biasa adanya. Keelokan itu seakan sebagai senjata pujian atau bahkan cemoohan. Hal itu karena mereka hanya melihat dan tidak merasakan, tentang proses, perjuangan, kegagalan, bangkit, pencapaian, dan lain sebagainya. Apa yang selalu menjadi titik poin? menurutku, ini semua tentang apa yang tersedia, atau apa yang dikenakan, tolok ukur kias dalam pencapaian seseorang. Mereka hanya berkata tentang "enaknya" atau "kalau cuma". Lalu, kami yang berproses harus menanggapi dengan cara apa? sikap yang bagaimana?
Sedikit cerita, suatu hari aku melihat ia yang selalu melangkah dengan senyum. Dia adalah pelajar yang sedang mencari jati dirinya, mencari sesuatu yang akan menjadi bekal menuju mimpinya. Tak terlihat sedikitpun renungan atau bahkan kesedihan yang mencolok. Ketika aku bertandang, rumahnya bak istana megah yang ketika orang melihatnya, ia akan memandang hormat. Dengan banyak kemampuan, dia bak multitalenta. Sepertinya dia adalah orang yang memang terlahir beruntung dan memiliki segala sesuatu yang mendukung untuk melakukan apapun yang ia inginkan.
Sekilas segalanya tampak menyenangkan dan menggembirakan. Melihatnya pun menjadi hal motivasi. Sepertinya kehidupan seperti itulah yang dimimpikan manusia yang sedang menuju mimpi. Hanya melihatnya melakukan sesuatu pun mampu membuat orang disekitarnya merasa dekat dengan tujuan atau mimpi mereka. Bagaimana bisa, dengan mudahnya memberi orang lain motivasi dan semangat yang hebat? tentu ini tidaklah mudah.



Rabu, 12 Oktober 2016

Ludira Band - Bersemi Di Hati (Download Mp3 Gratis)

"Bersemi Di Hati" adalah single pertama dari album "Dream Come True" Ludira Band. Lagu ini diciptakan oleh Daniel Dwi Supriyanto selaku mantan Vocalis Ludira Band. Dengan formasi baru, Ludira Jogja mengaransemen lagu "Tau Tak Tau (T3)" dan berhasil menghadirkan nuansa baru dengan judul "Bersemi Di Hati. Untuk mendownload lagu ini klik tulisan DOWNLOAD di bawah ini. #ludiraband #ludiraku #ludirajogja

DOWNLOAD 1 

DOWNLOAD 2 

Selasa, 12 April 2016

Biografi Musik Andika BuncAzca

Terjun dalam bidang seni adalah pilihan yang tepat karena saya dapat belajar tentang banyak hal seperti berorganisasi, event organizer, manajemen SDM, mempromosikan sebuah produk, mengembangkan kemampuan bermusik, menjalin relasi, serta menjadikan bijak dalam mengambil keputusan tentang berbagai masalah yang dihadapi. Banyak hal yang dapat saya pelajari dalam hobi bidang seni yang tidak diperoleh di instansi pendidikan formal. Kecintaan dengan hobi bidang seni menciptakan pengalaman yang akan selalu membekas dalam ingatan.

Mencintai seni terutama bidang musik telah tumbuh sejak di bangku TK. Dengan hobi mendengarkan lagu barat seperti Westlife, Michael Jackson, Guns’n Roses, membuat saya mencintai musik. Setelah itu memberanikan diri menyentuh alat musik (kelas 2 SD), lalu Gitar (kelas 6 SD), Bass kelas (7 SMP), Perkusi kelas (9 SMP), Piano (kelas 11 SMK). Kemampuan yang berkembang dari masa ke masa karena kecintaan akan bidang seni khususnya musik.

Saya juga bergabung dengan organisasi Sanggar Lare Mentes, RRI (Republik Rezpektor Klaten) untuk mengembangkan kemampuan bermusik. Yang selanjutnya membentuk grup band “INORI BAND”. Dari band ini, saya mulai mengembangkan BMI Production yang selanjutnya berganti nama menjadi “INORI MANAGEMENT”. Inori Management merupakan label/komunitas band indie yang menaungi band indie di Yogyakarta dan sekitarnya. Beberapa musisi/artis band indie turut menjadi bagian dari Inori Management, seperti: Ludira Band; Quid Band; Fly With ButterFly Klaten; AWSM!, Kelly 9; Jankiz Band; Sanggar Lare Mentes; K-hista Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta.

Berbagai pengalaman perform serta recording membuat saya ingin belajar lebih lagi. Inovasi perlu dilakukan agar menghasilkan karya yang anti-mainstream. “Setiap musisi memiliki idealisme masing-masing dalam berkarya. Namun akan lebih hebat jika musisi tersebut mampu menanggalkan idealismenya untuk belajar serta mengoptimalkan wawasan dalam berkarya (Andika BuncAzca–2016)”; “Jadilah manusia yang berbeda dan terkenal (M. Ali Sukrajap, SE., MBA – Fakultas Ekonomi ; Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta”. Menurut saya kesalahan adalah pelajaran agar lebih teliti dan awas, serta kegagalan adalah kesuksesan yang belum optimal. Jadi kedua hal tersebut mampu dibenahi dan diasah agar optimal dan sesuai harapan. #BiografiAsaBuncAzca #AndikaBuncAzca #InoriManagement

Rabu, 23 Maret 2016

Aku Dalam Ludira Band (Biografi Andika BuncAzca)

Berawal dari Masdika Nur Agus Salim yang bekerja di Bakpiaku 29 – Yogyakarta, saya berkenalan dengan Ludira Band di akhir tahun 2013. Pada saat itu saya masih mengusung nama BMI Production Klaten dan Inori Band. Perkenalan di awal dengan Dwi Supriyant dan Budi Ahmad Soleh cukup berkesan karena kata-kata mereka yang cukup memiliki semangat dan motivasi yang tinggi. Ditambah lagi demo lagu Ludira Band yang cukup membuat saya terkesan. Lagu mereka cukup easy listening dan memiliki potensi yang cukup besar. Akan sangat disayangkan bila hanya disimpan sendiri dan dilupakan. Saya memutuskan untuk bekerjasama dengan Ludira Band untuk membuat single lagu untuk band ini. Dan saya menyanggupi ketika diminta menjadi additional player Ludira Band sebagai Bassist.

Ludira semakin matang ketika Faizal Risky Yulianto bergabung bersama Ludira Band. Komposisi: Dwi Supriyant (Vocal+Gitar), Budi Ahmad Soleh (Gitar); Andika BuncAzca (Bass); Faizal Riski Yulianto (Drum) menjadi perpaduan yang apik. Dengan komposisi tersebut Ludira Band memantapkan diri dan menerima beberapa undangan job. Beberapa band indie Yogyakarta (ex: Lighter Band, Nahkoda Band, Nevo Band, K-Hista, Kelly 9, dll) pun mendukung kehadiran Ludira Band di kancah musik indie Yogyakarta. Sebagai band pemula Ludira Band belajar dari satu event ke event lain agar menjadi lebih baik dan kompak.

Kendala mulai muncul ketika Ludira Band harus melepas Faizal Risky Yulianto. Ketimpangan Ludira Band tanpa drummer membuat Ludira Band harus vacum dan mencari drummer baru. Namun disisi lain, Ludira Band sempat mengisi beberapa job baik akustik maupun inverview promo lagu di radio di Jogja (saat itu di Arma Sebelas Radio). Pencarian drummer sempat menemukan titik terang yaitu Rusdi, akan tetapi hal itu tidak berlangsung lama karena Rusdi pun hengkang dari Ludira Band. Hal ini disusul dengan Dwi Supriyant yang hengkang dari Ludira Band untuk merantau di Sulawesi. Ludira pun semakin timpang.

Tersisa Budi Ahmad Soleh dan Andika BuncAzca. Berdasarkan kesepakatan bersama, Ludira Band menggandeng Harrari Septin sebagai vocalis Ludira Band. Dengan formasi ini, Ludira Band pentas dan promo dengan cara akustik. Sempat beberapa kali berkolaborasi dengan band lain, seperti Irfan Dian Utomo Inori Band serta Solois lainnya. Hingga Akhirnya Budi Ahmad Soleh kembali menggandeng Heru Febriyant sebagai Drummer Ludira Band. Komposisi yang apik tersusun dengan rapi: Harrari Septin (Vocal), Budi Ahmad Soleh (Gitar), Andika BuncAzca (Bass), Heru Febriyant (Drum). Selanjutnya Ludira Band mulai berkarya kembali dan menggarap album pertama “Dream Come True”. #BiografiAsaBuncAzca #AndikaBuncAzca #InoriManagement #LudiraBand #Ludiraku #Ludira

Rabu, 17 Februari 2016

Aku dalam Inori Band (Biografi Andika BuncAzca)

Kali ini saya (Andika BuncAzca) akan membahas tentang cerita tentang Inori Band. Menemukan mereka menjadi bagian dari pembelajaran dalam berkarya. Sedikit mengulas tentang sejarah Inori Band yang menjadi kebanggaan karena menjadi band pertama saya. 

Saat itu saya kelas 11 SMK dan menjadi sekretaris di organisasi RRI Klaten atau disebut dengan Republik Rezpector Indonesia. Di organisasi inilah saya mengenal Bayu. Setelah kenal cukup dekat, ternyata Bayu adalah kakak kelas di SMP. Disini saya juga mengenal Irfan Samsidi selaku member dari organisasi RRI Klaten. Bayu mencetuskan sebuah ide untuk membuat sebuah band. Ide tersebut saya terima dan dengan sigap mengumpulkan beberapa personil, yaitu: Irfan Samsidi, Bayu & Kirana Mahendra. Pada awal pertemuan kami bertemu dan jamming di Sanggar Lare Mentes.  

Pertemuan awal cukup sampai disini. Melihat permainan musik Bayu yang tidak sesuai dengan genre Inori Band, lantas saya mengubah struktur dari Band ini dan menemukan Bambang Wahyu Saputra dan Sukma Latif. Disinilah INORI BAND mulai berjalan. Dengan formasi: Kirana Mahendra (Vocal), Irfan Samsidi (Bass), Bambang Wahyu Saputra (Gitar), Andika BuncAzca (Keyboard), Sukma Latif (Drum). Peresmian pun dilakukan di Inori Basecamp. 

Selama sebulan berjalan, akhirnya terkendala dengan keluarnya Kirana Mahendra dengan alasan “sulit mengimbangin genre yang diambil Inori Band”. Inori Band harus menerima kenyataan kehilangan vocalis. Atas musyawarah bersama, vocalis sementara adalah Bambang Wahyu Saputra. Berempat kami sempat mengisi beberapa job pentas di sekitar Klaten. Hingga akhirnya Irfan Samsidi memperkenalkan Irfan Dian Utomo yang selanjutnya menjadi vocalis Inori Band yang baru. Akan tetapi kami harus menerima kenyataan pahit selanjutnya, yaitu Sukma Latif yang keluar dari Inori Band karena “merantau untuk bekerja”. Inori Band pun timpang.  

Cukup lama kami berjalan dengan 4 orang. Hingga akhirnya kami mengambil keputusan untuk melakukan rotasi, dengan hasil: Irfan Dian Utomo (Vocal), Andika BuncAzca (Keyboard), Irfan Samsidi (Gitar), Bambang Wahyu Saputra (Drum). Inori Band berkarya tanpa bassist. Jika terdapat job, Inori Band menggandeng additional bass player Angga Aji Tirtana. Hingga akhirnya Irfan Samsidi memperkenalkan Ilham Jati Satria yang selanjutnya menjadi personil resmi Inori Band.Inori Band menerbitkan album My Love Story (9 lagu-tahun 2012); Dua Garis Besar (8 lagu-tahun 2014); Karya Dalam Lelap (8 lagu-tahun 2015); Bisik Kalbu (2016) & In The Mid Of Air (2016). Cerita dalam pembuatan karya tersebut tidak lepas dari Komunitas musik Indie yang didirikan oleh Andika BuncAzca, yaitu INORI MANAGEMENT. Dukungan dari Inoria (teman-teman Inori Band) serta relasi seperti Inori Basecamp, Ludira Band, dll.Pentas Inori Band memperoleh puncak kejayaan pada tahun 2013, saat Inori Band mulai mempunyai nama di kalangan pelajar Klaten. Tak jarang teman-teman inoria berkunjung ke Inori Basecamp hanya sekedar berfoto, minta lagu, atau memberikan beberapa kenang-kenangan. Di masa kejayaan inilah, beberapa dari kami berpuas diri hingga akhirnya terkikis oleh kemajuan musik dari band lain.Suka duka cerita Inori Band menjadi kisah manis. Seperti kegilaan saat di Inori Basecamp hingga Keseriusan kami saat mengaransemen musik di malam hari. Tak jarang kami bermain games bersama hingga pagi. Aktivitas Inori Band di Inori Basecamp tak pernah sepi. Bahkan beberapa Inoria pun ikut menemani kami dalam dokumentasi, publikasi, atau sekedar melihat kami melakukan rapat kecil. Tak jarang dari mereka yang memberikan beberapa ide cemerlang agar eksistensi Inori Band tetap terjaga. Suka duka di backstage pun tak kalah seru. Seperti Irfan Dian Utomo grogi hingga harus bolak-balik ke kamar mandi; Ilham Jati Satria yang tiba-tiba lupa chord atau alur lagu; Irfan Samsidi yang masik berkutik dengan melodi solo gitarnya; atau Bambang Wahyu Saputra yang sok cool menenangkan teman-teman. Kepanikan lain seperti nervous ketika bertemu dengan band bergenre Jazz, Fusion, Groovy menjadi cerita konyol. Tak jarang dari salah satu personil langsung pesimis dan mengajak pulang. Ketika di atas panggung, tak jarang Irfan Dian Utomo lost control hingga pitch vocal melenceng hingga keluarnya suara cicak tercekik; atau lupa lirik lagu; blank ketika harus introduce; hingga suara gitar yang tiba-tiba fals ketika di atas panggung. Hal yang tak terlupakan adalah ketika sound tiba-tiba mati ketika sedang onstage. Hingga akhirnya semua penonton serentak bersorak meneriaki kami “Turun!”. Suka Duka inilah yang menjadi pembelajaran berharga dalam berkarya. 

Beriringan dengan eksistensi Inori Band yang mulai pudar, satu persatu personil mulai menyibukkan diri dengan aktivitas masing-masing. Berawal dari Bambang Wahyu Saputra yang merantau untuk bekerja; disusul dengan Ilham Jati Satria yang fokus dengan sekolah; lalu Andika BuncAzca yang membuat project baru dan memproduseri beberapa band indie; membuat Inori Band harus vacum. Sempat membuat audisi additional Drum dan menemukan Ari Budiarto sebagai additional drummer. Akan tetapi menumbuhkan eksistensi band yang telah surut itu amatlah sulit. Hingga akhirnya Inori Band harus menerima kenyataan vacum. Sempat beberapa menerima job, namun tidak sebesar masa sebelumnya. Membuat batu loncatan dengan karya dan video klip namun tidak cukup membuat eksistensi Inori Band kembali terbit.Inori Band Vacum cukup lama. Disusul dengan seluruh personil yang merantau dan sibuk dengan urusan masing-masing. Saat itu, Bambang Wahyu Saputra di Karawang; Irfan Samsidi & Irfan Dian Utomo di Cikarang; Andika BuncAzca di Yogyakarta; Ilham Jati Satria di Magelang. Berdasarkan keputusan bersama, Inori Band hanyalah vacum. Beberapa project seperti recording pun kami lakukan dengan cara tracking masing-masing personil dalam waktu yang berbeda. Beberapa job pentas dengan band lain ataupun solois pun diatas-namakan Inori Band. Promosi media sosial pun tidak berhenti. Disinilah konsistensi personil dan band diuji. Seperti kata Irfan Dian Utomo, “konsistensi band akan terbukti ketika sudah lulus SMA. Apakah band tersebut akan tetap ada atau hanya menjadi sebuah nama yang terlupakan”. #BiografiAsaBuncAzca #AndikaBuncAzca #InoriManagement #InoriBand #Inoria #Inori

Minggu, 10 Januari 2016

Pencerca Nurani



Semua indah, tak tampak hitam atau warna kelabu yang menghiasi langit. Hati tampak putih, akal pun menjadi saksi sebuah cerita. Ada nurani dalam sebuah cerita, menuntun jiwa dalam menentukan langkah. Setiap kata pun menjadi ikrar, bahwa cerita akan berjalan sesuai alur. Setiap senyum dan tangis menjadi coretan perjalanan kehidupan. Inilah alur yang menjadi dambaan.

Apalah daya kala penerka menghampiri dengan busa di mulutnya. Hati kelam penuh kebencian menyerukan berita yang menusuk jiwa. Pencerca hanyalah satu atau dua, namun merusak alur yang telah berjalan. Nurani berlalu, kalbu tertutup. Hanya cerita lama yang tersisa, penerka bangga, pencerca tertawa atas sifat kedengkiannya.

Nurani terkunci keributan isi kepalanya. Sering kali ia terkapar dalam lamunan tentang sisa cerita yang diusaikan. Kerinduaan akan kebersamaan menjadikan jiwa semakin tersiksa. Pikiran rusak dan kacau, seakan tak akan ada harapan untuk cerita lama itu bersemi. Berbagai alasan tak membuat segalanya berubah, malah membuat derita semakin nyata.

Sampai disini, pengakuan palsu menjadi hal yang dibenarkan. Alih-alih mendapat sanjungan menjadikan kedengkian dirasa patut.  Menerka lalu mencerca serta menyebar kebencian, lalu menghitamkan Nurani. Menjadikan kehidupan penuh prasangka buruk dan derita