Selasa, 11 Juni 2013

Dinding Mulai Mengawasi Diri

Menahan hantaman ketidak-pastian
Terpuruk bersama heningnya lorong sunyi
Seakan sukma tertekan dengan dinding menjulang nan tinggi

Sunyi menekan aku untuk tak berisik
Berdiam untuk diri sendiri
Dan mengerti bahwa dinding punya telinga tersendiri
Memahami bahwa semua dapat melihat meski tak disini
Juga menyampaikan hal yang seharusnya terpendam sendiri

Bergerak sedikit, terasa berat untuk ini
Karna itu menimbulkan suara
Berbicara dengan berhati-hati, Bertindak dengan perlahan
Agar tak terdengar siapa pun
Agar makna kias tak dapat di artikan secara mudah

Tak akan bercerita pada siapapun
Ini sebuah rahasia hati
Dengan gelombang tekanan yang menantang batin
Raga coba mengayuh, Jiwa tetap menepi
Dalam kesendirian

Sempat tertantang untuk berteriak
Sempat juga ingin membuatnya penging
Atau berdansa erotis dengan ini
Tapi hal itu sama saja
Dengan hasil yang berujung NOL

Tertunduk, terdiam membisu
Langkahku cukup menepi
Dengan meredam, mengubur semua
Hingga hilang, lenyap untuk sementara
Akan ku ledakkan suatu saat nanti
Saat semua telah menekan aku
Dan saat kesabaranku mulai terkalahkan dengan amarah


Senin, 03 Juni 2013

Booking Inori Band Klaten

Contact Information

Untuk Informasi lebih lanjut silahkan menghubungi kami di alamat, telepon, dan email kami dibawah ini.

Mailing Address
Inori Basecamp
Sembungan, Towangsan, Gantiwarno
Klaten, Central Java, 57455
Indonesia

Tel: +62-838-65513272
Email: dika_inoria@inoriband.com | andikainoria@gmail.com


Rabu, 22 Mei 2013

C.U.A

cua menengok, keluar membisik dan mengusik diri
alang-alangan, tak penuh, mungkin juga tak terisi
berkecamuk membelai atma, terkadang sedikit menyayatnya

sedikit sinar, temaram bila menjenak
seluruh titah terberai, terabai, tak acuh dari sisi individual

terkadang terkesima mendengar nada mengalun lirih disertai mimik wajah nan elok
terkadang terpukau, meloka paras dan abuk nan tergerai indah
kendati demikian terhipnotis, berhalusinasi dan terbuai

koyak'kan hati, merujuk pada cucuk yang tertanam dalam kalbu
menikam, terkadang hampir membunuh
dan itu yang tergambar di alur ini, cerita yang akan menjadi klimaks nantinya

sering kau lantingkan akad, yang berujung dengan penafikan
cua kembali hadir seiring masa itu
mencalar atma sekaligus fisik hingga carut


Minggu, 12 Mei 2013

Aku Masih Menyebutmu, Kawan

Pernah bersandar, mencari celah pacuan bersama
Lalu melesat beranjak dari temaram
Aku cukup bersandar pada ini, begitu pun sebaliknya
Cukup luang untuk kebersamaan klasik ini
Tak rapuh memandang langit, Tak letih berdiri

Lalu semua terhempas
Ini bukan badai, tapi kesengajaan
Titik hitam senja yang berubah kelam
Beranjak pudar kemerahan itu
Bukan karna waktu, bukan juga hal besar

Roda membalik, begitu dengan ini
Sedetik, Seucap, Sekedip, Semua bisa berubah cepat
Aku tak menyesal, hanya saja sedikit kecewa
Dan aku tak lagi tau tentangmu
Tak lagi tau, Kau siapa di hadapanku..

Tanda menyerbu, genderang menderu
Aku hanya untukku, dan kamu dengan kubumu sendiri
Saling perang menyerang satu dengan lain
Saling membenci, tak menganggap lagi
Membahuku dari belakang
Seperti menikam setelah memelukku erat

Masih bisa paham?
Memang dan seharusnya tak semua wajib di curahkan
Aku terhimpit, dimana itu menjadi bahan serangan untukku
Coba bertahan, walau tertikam sedikit dengan itu
"Aku Selalu Ada Untukmu"
Kata di masa lalu yang kini membuatku tertawa
Cukup indah bila diberi hiasan atau diucap dengan cara melankolis
Tapi bagi ku itu sebuah lelucon penghantar tidur

Ada kata perpisahan untuk ini?
Jika tidak, silahkan keluar dari diri
Lupakan bila kau sanggup, Pudar kan semuanya
Aku tak keberatan untuk ini
Silahkan terbang, silahkan berpaling dariku
Tapi aku masih menyebutmu, Kawan


Jumat, 03 Mei 2013

Revolusi Cinta

Kurasakan alunan kakinya mulai terhenti
Mungkin sebuah isyarat, tentang sebuah keluh
Tak terbaca sedikitpun, semua tersirat
Mungkin makna konotasi yang tinggi, membuatku tak mampu menafsirkannya
Terlihat senyumnya mulai meragu
Apa itu tentang sebuah keletihan?
kurasa, mungkin, dan memang jawabannya "iya"
sejenak aku merasa itu, mengerti dengan keadaanmu

Sesekali kujumpai satu kotak kerinduan
Dimana saat kita pertama bersua
Kau jabat tanganku, dan kau sebutkan namamu
Saat dimana semua masih berjalan indah, kau penuh perhatian, tak lelah tuk mendekat
Tumpuanmu masih menjadi tiang yang kuat untukku
Aku rindu saat itu...

Terakhir kudengar nafasmu tersentak-sentak
cintamu mungkin tak lagi seperti samudra
mungkin juga mulai surut sejak malam itu

Mungkin akan terasa indah, jikalau rembulan itu menampakkan sinarnya kembali
seperti dulu, seperti masa-masa itu
dimana sinar itu yang menuntunku ke jalan ini
Jalan menuju hatimu


Rabu, 17 April 2013

Subyektif

Bisa memanggilnya?
"Pasti", begitulah jawabannya
Dapat memapahnya?
"Tidak" Aku terburu menjawabnya sendiri
Kadang tak sesuai kan? Kadang harus begitu !

Seperti cermin...
Dapat berkaca, lalu memecahkannya
Itu gambaran asli diri yang tak disadari diri sendiri
Seperti ini kenyataan, pahamilah !

Membela dengan apa yang menjadi opini
Kadang tak jujur pula dengan diri
Menantang dengan keberanian
Tapi tak mengerti arti sebenarnya
Sesuatu yang yang dilakukan baik atau buruk untukmu
Tak berarti sama dipandangan orang
Semuanya Subyektif !

Pegang ini !
Semua takkan menekan, bahkan untuk lawan ataupun kawan
Genggam ini !
Rasakan pada diri, rasakan dalam jiwa
Lalu melangkah sedikit saja, karna itu belum tentu benar di diri lain
Tak perlu mengaduk terlalu banyak
Sedikit dengan apa yang terbataskan saja


Sabtu, 06 April 2013

Potret Masa Kecil

tersisa satu potret kenangan
masa kecil yang kini tlah berlalu
hanya saja semua itu kini lepas
satu per satu pergi meninggalkan kami

bentuk dari kejailan masa kecil
takkan kembali bersama kami
seolah semua tlah hilang
berlalu masa kecilku menjadi masa muda

sapaan masa kecil, tak terdengar lagi
beberapa diantaranya lupa akan hal itu
sapaan masa kecil, tak terdengar lagi
beberapa diantaranya tak lagi berkawan
beberapa pula terpisah dan pergi jauh

sedikit ingat, kadang sempat terlupa
keceriaan itu telah sirna, berganti dengan keseriusan
namun memori itu tetap bergejolak dalam ingatan
meski beberapa diantaranya sedikit hilang
bahkan terhapus dari pikiran

sosok masa kecil yang kurindukan
bermain untuk kesenangan
tak peduli waktu
paling suka kalau melanggar sesuatu yang dilarang orang-orang tua masa itu
paling suka jika menjaili kawan, sampai nangis pula
kenakalan itu yang membawaku kembali, mengingat, mengenang semuanya

kalian kawan kecilku..
selamat berjuang menempuh masa depanmu
aku merindukan kalian...
Jangan lupakan kisah kecil kita, jadikan ini setitik cerita klasik di memori mu kawan..